Pelajar Italia Jatuh Hati pada Tari Tradisional Indonesia di SMATAG Surabaya

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
Print

Surabaya, kabarkini.net – Talita Faccioli, siswa State High School Enrico Medi, Italia, tengah menjalani program pertukaran pelajar selama satu tahun di SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) Surabaya. Selama berada di Indonesia, Talita mengikuti kegiatan belajar bersama siswa kelas XI-1 IPA sekaligus merasakan langsung suasana sekolah dan kehidupan sosial di Indonesia.

Ketertarikannya memilih Indonesia sebagai negara tujuan tidak lepas dari berbagai cerita positif yang selama ini ia dengar tentang Indonesia dan masyarakatnya. Sementara keputusan untuk ditempatkan di SMATAG Surabaya merupakan bagian dari rekomendasi keluarga.

“I chose Indonesia because I’ve always heard good things about this country and the people who live here,” ujar Talita.

Berada di lingkungan pendidikan yang berbeda dengan negara asalnya, Talita sempat mengalami culture shock. Di Italia, ia terbiasa belajar di sekolah dengan jumlah siswa yang lebih sedikit, sekitar 20 orang dalam satu kelas. Sementara di SMATAG Surabaya, satu kelas dapat diisi hampir 40 siswa.

Tantangan lain muncul dalam hal komunikasi. Sebagai pelajar yang belum menguasai bahasa Indonesia, Talita sempat kesulitan berkomunikasi dengan guru maupun siswa yang tidak banyak menggunakan bahasa Inggris. Namun, kendala tersebut perlahan teratasi berkat bantuan teman-temannya di SMATAG yang bersedia menerjemahkan dan membantunya memahami percakapan.

“They were always really nice, kind, and helpful,” tuturnya.

Interaksi dengan siswa menjadi bagian penting dalam proses adaptasi Talita. Menurutnya, teman-teman di SMATAG tetap berusaha membangun komunikasi meski terkadang terkendala bahasa. Mereka juga mengenalkannya kepada teman-teman lain, sehingga lingkar pertemanan Talita semakin luas selama tinggal di Surabaya.

“Even though we don’t always understand each other, we still try to communicate,” katanya.

Bukan hanya lingkungan sekolah dan pertemanan yang menghadirkan pengalaman baru. Kehidupan sehari-hari di Surabaya juga menjadi bagian dari proses adaptasi Talita. Ia berasal dari sebuah kota kecil di Italia, kemudian harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di Surabaya yang merupakan salah satu kota besar di Indonesia.

Perbedaan suasana perkotaan hingga kondisi cuaca menjadi pengalaman tersendiri. Salah satu hal yang menarik perhatiannya adalah waktu matahari terbenam. Saat musim panas di Italia, matahari baru terbenam sekitar pukul 21.00. Sementara di Surabaya, matahari sudah terbenam jauh lebih awal, sekitar pukul 17.00.

“Something different from my home country is that everything here seems to happen a bit earlier because the sun goes down really early,” ujarnya.

Di tengah proses beradaptasi, Talita tidak hanya fokus mengikuti kegiatan akademik. Ia juga memanfaatkan kesempatan berada di SMATAG untuk mengenal budaya Indonesia lebih dekat, salah satunya melalui ekstrakurikuler tari tradisional.

Meski mengaku masih kesulitan mengikuti gerakan tari yang berbeda dari apa yang biasa ia kenal, Talita tetap menikmati pengalaman tersebut. Baginya, kegiatan seni di sekolah menjadi ruang untuk berinteraksi sekaligus mengenal lebih jauh budaya lokal.

“I really wanted to join because i want to get to know the local culture more, including the traditional dances and music,” ungkapnya.

Ketertarikan terhadap budaya Indonesia menjadi salah satu pengalaman penting yang ingin ia bawa selama menjalani program pertukaran pelajar. Selama satu tahun di Indonesia, Talita berharap tidak hanya memperoleh pengalaman akademik, tetapi juga dapat memahami bahasa, kebiasaan, serta kehidupan masyarakat Indonesia melalui interaksi sehari-hari.

Ia juga berharap hubungan pertemanan yang terjalin selama berada di SMATAG dapat terus bertahan meski program pertukaran telah berakhir. Bagi Talita, pertemanan dengan siswa Indonesia menjadi salah satu bagian paling berkesan selama berada di Surabaya.

“I really hope to have made good friendships that last for a lifetime and to have learned the Indonesian culture and language,” katanya.

Bagi Talita, pengalaman di SMATAG Surabaya bukan sekadar bagian dari perjalanan akademik. Semua pengalaman yang ia dapatkan di Indonesia juga menjadi bekal yang ingin dibawanya pulang ke Italia. Ia berharap dapat membawa cerita tentang kehidupan di Indonesia sekaligus membagikan perspektif baru yang diperolehnya dari interaksi dengan siswa dan lingkungan sekolah di Surabaya.

Perjalanan Talita di SMATAG Surabaya pun masih panjang. Masih ada waktu baginya untuk terus mengenal lingkungan, budaya, dan kehidupan masyarakat Indonesia sebelum akhirnya kembali ke Italia.

Ruang kelas, pertemanan, hingga gerakan tari tradisional kini menjadi bagian dari cerita Talita selama setahun menjalani pengalaman baru di Indonesia. (L4)

Scroll to Top