Surabaya, kabarkini.net – Erupsi Gunung Anak Krakatau tak hanya menimbulkan ancaman berupa abu vulkanik. Di balik kepulan abu tersebut, terdapat sejumlah risiko kesehatan yang dapat mengintai warga, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan hingga gangguan pada sistem pernapasan.
Direktur RS Kemenkes Surabaya, dr. Martha M. L. Siahaan, S.H., MARS., M.H.Kes., mengimbau masyarakat agar tidak panik menghadapi kondisi tersebut. Meski demikian, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, salah satunya dengan membatasi aktivitas di luar rumah.
“kalau mau ke mana-mana, kalau bukan karena pekerjaan, tidak usah keluar rumah dulu,” ujar dr. Martha.
Paparan abu vulkanik dapat berdampak pada saluran pernapasan. Sejumlah keluhan yang mungkin muncul antara lain iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk, hingga sesak napas. Kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus, terutama bagi masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan maupun gangguan jantung.
Untuk itu, warga yang harus beraktivitas di luar rumah diimbau tetap melindungi diri. Penggunaan masker penting dilakukan untuk mengurangi paparan abu vulkanik, sedangkan pelindung mata dapat membantu mencegah iritasi akibat partikel abu.
Selain perlindungan dari paparan luar, kondisi tubuh juga perlu dijaga. Dr. Martha mengingatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan cairan, mengonsumsi makanan bergizi, serta memperbanyak sayur dan buah dan memenuhi kebutuhan vitamin.
“minum air yang banyak, air putih. kemudian vitamin, jangan lupa vitamin. terus makan sayur, buah yang sehat,” katanya.
Menjaga kebugaran tubuh juga perlu diikuti dengan penerapan pola hidup sehat. Masyarakat diimbau menghindari rokok, beristirahat dengan cukup, serta tetap berolahraga sekitar 30 menit setiap hari sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.
Selain kesehatan fisik, erupsi gunung juga dapat berdampak pada kondisi psikologis masyarakat. Informasi mengenai aktivitas gunung, arah sebaran abu, hingga kabar keluarga yang berada di wilayah terdampak dapat memicu rasa cemas dan khawatir.
Dr. Martha meminta masyarakat tetap waspada tanpa membiarkan kekhawatiran berkembang menjadi kepanikan.
“jangan panik. semua berwaspada bisa, tapi jangan sampai terlalu,” pesannya.
Masyarakat juga diingatkan agar tidak mengabaikan gangguan kesehatan yang muncul setelah terpapar abu vulkanik. Jika keluhan semakin mengganggu atau kondisi kesehatan memburuk, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Sebelumnya, pemerintah mengingatkan abu vulkanik berpotensi menimbulkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, batuk, hingga sesak napas. Paparan abu juga dapat memperburuk kondisi kesehatan masyarakat yang sebelumnya telah memiliki penyakit pernapasan maupun jantung.
Di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau, masyarakat diimbau tidak berspekulasi dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Perkembangan aktivitas erupsi serta arah sebaran abu perlu dipantau melalui informasi resmi PVMBG, BMKG, BNPB, maupun BPBD.
Erupsi memang tidak dapat dihentikan. Namun, risiko terhadap kesehatan dapat diminimalkan. Kuncinya bukan panik, melainkan tetap waspada, melindungi saluran pernapasan, menjaga kondisi tubuh, serta tetap tenang dalam menghadapi situasi bencana. (Y2)









