Surabaya, kabarkini.net – Suasana haru dan syukur menyelimuti Asrama Haji Debarkasi Surabaya Minggu pagi (22/06/2026). Sebanyak 376 jamaah haji Kloter 33 asal Jember dan Bondowoso akhirnya tiba dengan selamat, setelah perjalanan mereka sempat diwarnai insiden ancaman bom di pesawat Saudi Airlines yang mereka tumpangi. Pesawat tersebut terpaksa mendarat darurat di Bandara Kualanamu, Medan, Sabtu (21/6).
Meskipun mengalami keterlambatan, para jamaah haji tampak sehat dan ceria saat turun dari 10 bus yang mengantar mereka ke asrama. Rasa syukur atas keselamatan mereka tampak jelas terpancar dari raut wajah para lansia yang baru saja menunaikan ibadah haji.
“Alhamdulillah, kami semua selamat sampai di Surabaya. Awalnya memang sempat khawatir saat mendengar kabar ada ancaman bom, tapi setelah sampai di hotel di Medan, kami merasa aman dan pihak berwajib sudah menangani semuanya dengan baik,” ujar Sri Wahyuningsih, salah satu jamaah haji Kloter 33. Ia menambahkan, “Kami menganggap ini sebagai bonus liburan di Medan. Meskipun sedikit menegangkan, pengalaman ini akan menjadi kenangan tersendiri.”
Pengalaman menegangkan juga diungkapkan oleh beberapa jamaah lainnya. Mereka mengaku baru mengetahui adanya ancaman bom setelah pesawat mendarat darurat dan tiba di hotel tempat mereka menginap sementara di Medan. Namun, kecemasan mereka sirna berkat penanganan yang cepat dan responsif dari pihak berwenang.
Sekretaris PPIH Debarkasi Surabaya, Sugiyo, memberikan konfirmasi dan menghimbau keluarga jamaah haji untuk tidak khawatir. “Alhamdulillah, seluruh jamaah haji Kloter 33 telah tiba di Surabaya dalam keadaan sehat. Kami memastikan mereka mendapatkan perawatan dan pendampingan yang dibutuhkan,” ungkap Sugiyo. Ia menambahkan, hingga Minggu pagi, sebanyak 35 kloter jamaah haji telah kembali ke daerah asal, berjumlah total 13.247 jamaah atau sekitar 36 persen dari total jamaah haji Embarkasi Surabaya.
Ketibaan jamaah haji Kloter 33 ini menandai berakhirnya kisah menegangkan yang sempat membuat keluarga mereka cemas. Kisah ini sekaligus menjadi bukti kesigapan pihak berwenang dalam menangani situasi darurat dan memastikan keselamatan para jamaah haji Indonesia. (K3)









