Kolektor Keturunan Tionghoa Ubah Citra Keris Dari Mistis ke Investasi

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
Print

Surabaya, kabarkini.net – Keris selama ini identik dengan dunia mistis dan hanya diminati kalangan tua berlatar belakang Jawa. Namun, seorang kolektor berdarah Tionghoa, KRA. Rivo Cahyono Setyonegoro, membuktikan bahwa pusaka Nusantara ini dapat memiliki citra baru—sebagai simbol budaya, kebanggaan nasional, dan bahkan investasi bernilai tinggi.

Pria kelahiran Surabaya ini telah mengoleksi lebih dari 1.000 keris dari berbagai daerah di Indonesia, dengan usia yang bervariasi, bahkan ada yang mencapai lebih dari 1.000 tahun. Harga tiap keris pun luar biasa, dari ratusan ribu hingga miliaran rupiah.

Lewat kanal YouTube Ethnic Indonesia, Rivo sukses menyajikan konten edukatif, informatif, sekaligus kekinian, sehingga mampu merangkul generasi muda. “Walaupun saya Tionghoa, saya Indonesia. Saya ingin masyarakat Indonesia bangga dengan warisan tradisionalnya,” tegasnya.

Namun, perjuangannya tak hanya sebatas konten digital. Ia mendirikan Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi, yang memberikan beasiswa bagi calon empu muda di ISI Surakarta serta bantuan sosial rutin. Selain itu, ia juga menggagas berdirinya Koperasi Ethnic Indonesia Sejahtera untuk mendukung UMKM yang bergerak di sektor budaya.

Presiden Prabowo Subianto, bahkan ketika masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan, mengapresiasi kiprahnya melalui panggilan video, menyebutnya sebagai teladan pelestari budaya bangsa dan berpesan padanya untuk terus melestarikan warisan budaya bangsa Indonesia. Tidak hanya itu, atas dedikasinya, Rivo juga dianugerahi gelar kehormatan Kanjeng Raden Arya (KRA) oleh Sri Susuhunan Pakubuwana XIII, Keraton Surakarta Hadiningrat.

Kolonel (Mar) Sunardi Suryo Kusumo, penasehat Yayasan Ethnic Indonesia Berbagi, berharap ke depan berdiri museum keris pertama di Jawa Timur hasil gagasan Rivo. Ia juga mendorong pemerintah menerbitkan buku budaya Nusantara untuk memperkenalkan nilai luhur pusaka kepada generasi muda di sekolah-sekolah.

“Di balik pusaka, ada pesan moral yang luhur. Generasi penerus bangsa harus tahu, menghargai, dan melestarikan budaya leluhur kita,” ujar Sunardi.

Melalui dedikasinya, Rivo mengubah citra keris dari mistis menjadi investasi budaya, sekaligus menjadikan warisan leluhur ini kebanggaan Indonesia di era digital. (K3)

Scroll to Top