Society 5.0 : Mimpi Teknologi yang Sempurna Atau Panggung Tayang Nasib Manusia?

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
Print

Surabaya, kabarkini.net – Seri ini akan mengeksplorasi 6 aspek krusial tentang Society 5.0—konsep yang menjanjikan dunia yang lebih baik, tapi juga menyembunyikan ancaman yang tak kalah besar.

Siapa yang tidak penasaran dengan masa depan? Saat kita memasuki era digital yang semakin mendalam, istilah Society 5.0 mulai sering terdengar. Dijelaskan sebagai “masyarakat yang memadukan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan”, konsep ini membawa harapan utopis: menyelesaikan krisis global, menciptakan keseimbangan, dan membuat hidup manusia lebih baik. Tapi, apakah ini hanya mimpi yang indah, ataukah kita sedang menyaksikan panggung tayang yang akan menentukan nasib kita semua?

Untuk menjawabnya, mari kita telusuri 6 aspek krusial yang akan kita bahas dalam seri ini.

1. Apa Itu Society 5.0 dan Janjinya yang Menggiurkan?

Pertama-tama, kita perlu memahami: Society 5.0 itu apa sebenarnya, dan siapa yang mencetuskan konsep ini? Secara resmi, konsep ini berasal dari Jepang yang mengusulkannya sebagai tahap selanjutnya setelah masyarakat agraris (1.0), industri (2.0), informasi (3.0), dan masyarakat terhubung (4.0). Janjinya sangat besar: teknologi yang bekerja untuk manusia, bukan sebaliknya—dengan keseimbangan antara kemajuan digital dan nilai-nilai sosial. Tapi pertanyaan yang terbesarnya: apakah Society 5.0 sungguh bisa menjadi obat sempurna untuk krisis ekonomi, lingkungan, dan sosial yang kita hadapi hari ini?

2. Teknologi: Penyelamat yang Diincar Atau Penjajah yang Tak Dikenal?

AI, IoT, dan big data adalah tulang punggung Society 5.0. Mereka memudahkan pekerjaan, mengoptimalkan sistem, dan membuka peluang baru. Tapi, apakah inovasi ini benar-benar membebaskan manusia dari beban, atau malah membuatnya terkurung dalam jaringan ketergantungan? Masalah ketimpangan digital juga semakin parah: siapa yang mendapatkan manfaat dan siapa yang tertinggal di belakang? Pada akhirnya, apakah kita sedang membangun dunia yang lebih manusiawi, atau malah mengorbankan kemanusiaan demi nama keefisienan?

3. Realitas Sosial: Antara Cerita Elitis dan Kenyataan Rakyat

Banyak kritikus menyatakan bahwa Society 5.0 hanyalah narasi elitis yang jauh dari kehidupan masyarakat akar rumput. Apakah benar ini hanya “acara realitas” yang menampilkan kemajuan semu di tengah krisis sosial yang nyata—seperti kemiskinan, ketidaksetaraan, dan konflik yang tak kunjung selesai? Dan bagaimana peran media dan pemerintah dalam membingkai konsep ini: apakah sebagai solusi yang pasti, atau hanya sebagai ilusi yang membuat masyarakat tenang dan tidak menanya terlalu banyak?

4. Etika dan Krisis Identitas: Apa Artinya Menjadi Manusia di Zaman Ini?

Ini adalah pertanyaan paling mendasar: di era Society 5.0, apa artinya menjadi manusia? Apakah kita masih menjadi subjek yang memiliki kehendak, emosi, dan nilai sendiri, atau telah direduksi menjadi sekadar data dan angka yang diproses oleh algoritma? Pertanyaan etika juga semakin mendesak: bagaimana nilai-nilai seperti rasa hormat, kebebasan, dan empati bisa bertahan di tengah dominasi mesin yang semakin kuat dan cerdas?

5. Distopia yang Disembunyikan: Di Balik Jargon Futuristik

Di balik kata-kata menarik seperti “masyarakat pintar” dan “keseimbangan digital”, apakah Society 5.0 menyembunyikan ancaman distopia? Kita tidak bisa mengabaikan potensi pengawasan massal, manipulasi data, dan hilangnya privasi yang semakin nyata. Apakah kita benar-benar menuju masyarakat yang lebih cerdas, atau malah menuju dunia yang terkontrol, kaku, dan kehilangan arah hidup?

6. Cerita Alternatif: Menuju Society 5.0 yang Kritis dan Inklusif

Jika Society 5.0 saat ini masih jauh dari sempurna, apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana masyarakat sipil bisa mengambil alih narasi tentang teknologi, agar tidak hanya dikendalikan oleh kalangan elit atau perusahaan besar? Peran pendidikan, budaya, dan partisipasi publik sangat penting dalam membentuk Society 5.0 yang adil dan inklusif. Dan yang paling penting: apakah mungkin kita menciptakan Society 5.0 yang benar-benar berlandaskan kemanusiaan, bukan sebaliknya? (K3) *Supangat,M.Kom, PhD, ITIL,Cobit,CLA* (Wakil Rektor II Untag Surabaya)

Scroll to Top