Tim Psikologi Untag Surabaya Ukir Prestasi Nasional Lewat Esai Pengembangan Desa Wisata

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
Print

Surabaya, kabarkini.net – Ide pengembangan desa wisata yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan berhasil mengantarkan tim mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya meraih Bronze Medal pada ajang Mandalika Essay Competition (MEC) VIII. Kompetisi esai tingkat nasional yang digelar Lembaga Setara Prisma Nusantara (Nusantara Muda) bekerja sama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mataram itu berlangsung di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 16–18 Mei 2026.

Tim Untag Surabaya dipimpin Yuniar Dwi Putri bersama Ramadhan Eka Prayoga, Devita Permatasari, Linda Anas Tasya Oktaviani, dan Alvin Syawaludin Mulyono. Pada babak final kategori Pariwisata dan Kebudayaan, Yuniar dan Ramadhan dipercaya mewakili tim untuk mempresentasikan gagasan di hadapan dewan juri. Mereka sukses bersaing dengan finalis dari sejumlah perguruan tinggi ternama, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

Dalam kompetisi tersebut, tim mengangkat esai bertajuk “Manggarai Maritim Culture Hub sebagai Model Pariwisata Ekonomi Biru Berbasis Budaya untuk Menekan Kemiskinan dan Kebocoran Ekonomi di Labuan Bajo.” Melalui karya itu, mereka menawarkan konsep pengembangan desa wisata di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat lokal. Warga didorong menjadi aktor utama dalam ekosistem pariwisata, mulai dari pelaku UMKM, pengelola destinasi, hingga pelestari seni dan budaya.

Keikutsertaan mereka berawal dari kesamaan minat di bidang kepenulisan ilmiah. Tidak hanya mengasah kemampuan menyusun esai, tim juga mempersiapkan diri untuk mempresentasikan sekaligus mempertahankan ide di hadapan para juri.

Yuniar mengatakan, konsep yang mereka tawarkan diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa harus meninggalkan kampung halaman.

“Harapannya, masyarakat setempat tidak perlu mencari pekerjaan ke luar daerah karena potensi wisata yang dimiliki desa dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Yuniar.

Di balik raihan tersebut, tim menjalani proses riset dan penyusunan esai selama kurang lebih tiga bulan. Mereka melakukan studi literatur, berdiskusi dengan masyarakat serta instansi terkait di Kabupaten Manggarai, hingga menyempurnakan naskah bersama dosen pembimbing, Yuriadi, S.Psi., M.A., sebelum dipresentasikan pada kompetisi.

Perjalanan menuju babak final pun tidak sepenuhnya mulus. Keterbatasan untuk melakukan observasi langsung ke lokasi penelitian menjadi tantangan utama. Seluruh data dihimpun melalui komunikasi jarak jauh dengan masyarakat setempat dan berbagai referensi ilmiah. Tim juga harus mengatasi kendala bahasa karena sebagian narasumber belum terbiasa menggunakan bahasa Indonesia.

Tantangan lain muncul saat menentukan dua wakil yang berangkat ke babak final. Dari lima anggota tim yang terlibat sejak awal, hanya dua orang yang dapat mengikuti presentasi di Lombok.

“Kami berdiskusi selama berjam-jam bahkan beberapa hari. Semua anggota tentu ingin berangkat karena semuanya terlibat sejak awal. Namun akhirnya kami mengesampingkan keinginan pribadi dan lebih mengutamakan potensi masing-masing anggota tim. Kami memilih dua orang yang paling siap mempresentasikan gagasan di hadapan dewan juri,” ungkap Yuniar.

Selain membawa pulang prestasi, Yuniar juga memperoleh pengalaman yang tak terlupakan selama mengikuti rangkaian kegiatan di Lombok. Salah satu momen paling berkesan terjadi saat field trip menuju Gili Trawangan menggunakan kapal nelayan bersama peserta dari berbagai daerah.

Perjalanan sempat diwarnai ombak besar yang membuat kapal terombang-ambing hingga penumpang dan barang bawaan mereka basah diterjang air laut. Meski sempat panik, seluruh peserta saling menguatkan dan berdoa bersama hingga akhirnya tiba dengan selamat.

“Bagi kami, pengalaman itu sangat berkesan karena dalam satu kapal terdapat peserta dari berbagai daerah dan latar belakang agama yang berbeda. Semua bersatu dan saling mendoakan demi keselamatan bersama. Momen itu menjadi pelajaran berharga tentang kebersamaan dan toleransi,” tutup Yuniar.

Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi, riset yang matang, serta keberanian menawarkan solusi atas persoalan masyarakat mampu membawa mahasiswa berprestasi di tingkat nasional. Tim Psikologi Untag Surabaya pun berkomitmen untuk terus melahirkan gagasan-gagasan inovatif melalui berbagai kompetisi ilmiah di masa mendatang. (K3)

Scroll to Top