Bali, kabarkini.net – Industri pariwisata Bali terus menunjukkan tanda-tanda pemulihan meski masih dibayangi ketidakpastian ekonomi dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Di tengah kondisi tersebut, Good Day Homestay resmi membuka operasionalnya melalui grand opening yang digelar di Jalan Padma Utara Gang Abdi Nomor 4, Legian, Kuta, Badung, Bali, Sabtu (6/6/2026).
Mengandalkan konsep akomodasi jangka panjang dengan tarif terjangkau, pengelola menargetkan wisatawan mancanegara, terutama dari Australia, sebagai pasar utama. Kehadiran homestay ini diharapkan dapat ikut mendorong kebangkitan sektor pariwisata sekaligus menggerakkan roda perekonomian di kawasan Legian.
Manajemen menilai momentum pembukaan usaha baru ini menjadi langkah strategis untuk menarik lebih banyak wisatawan, baik domestik maupun internasional, melalui berbagai kegiatan dan program yang akan digelar dalam waktu mendatang.
Owner Good Day Homestay, Frangky Tanimena, mengatakan pelaku usaha pariwisata perlu tetap bergerak aktif meski situasi global belum sepenuhnya stabil.
“Kita berharap ke depan itu wisatawan di Bali bisa hidup kembali. Kami juga berencana mengadakan beberapa event agar wisatawan lokal dan mancanegara bisa berbondong-bondong hadir, karena wilayah Legian ini tetap menjadi magnet utama bagi turis asing,” ujar Owner Good Day Homestay, Frangky Tanimena, Sabtu (6/6/2026).
Menurut Frangky, berbagai tantangan ekonomi global dan konflik geopolitik yang terjadi saat ini tidak menyurutkan optimisme pengelola. Ia meyakini pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku industri pariwisata.
“Kami percaya bahwa pimpinan-pimpinan di kementerian, dewan, maupun Presiden sedang berusaha memberikan yang terbaik untuk pelaku usaha. Sektor bisnis pariwisata akan selalu menunjang program pemerintah agar Indonesia menjadi lebih baik,” jelasnya.
Manajemen juga menargetkan investasi yang ditanamkan pada proyek akomodasi tersebut dapat mencapai titik impas dalam kurun waktu sekitar tiga tahun apabila kondisi ekonomi dan sektor pariwisata tetap tumbuh positif.
“Jika semua berjalan lancar dan iklim ekonomi stabil, kami menargetkan dalam waktu tiga tahun investasi bisnis ini sudah kembali normal dan mendatangkan keuntungan yang baik,” imbuhnya.
Salah satu pengelola, Baptista Justin Tanimena, menjelaskan konsep long stay dipilih karena dinilai sesuai dengan kebutuhan wisatawan asing dan ekspatriat yang ingin menetap lebih lama di Bali. Untuk itu, tersedia pilihan sewa mingguan, bulanan hingga tahunan dengan harga yang kompetitif.
“Kami ingin menghadirkan konsep baru untuk membangkitkan suasana Bali lagi, terutama di daerah Legian. Di sini banyak turis asal Australia, dan kami memfasilitasi mereka agar bisa tinggal lebih lama dengan biaya yang jauh lebih murah,” urai Justin yang saat ini tengah menempuh studi di Melbourne tersebut.
Tarif kamar di Good Day Homestay ditawarkan mulai Rp1,5 juta per minggu. Dengan harga tersebut, tamu dapat menikmati berbagai fasilitas seperti Wi-Fi, kolam renang outdoor, serta akses yang dekat menuju pantai, pusat hiburan malam, dan kawasan kuliner populer di Legian.
Menariknya, pengelola justru memandang melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai peluang untuk menarik wisatawan asing. Dengan kurs yang lebih tinggi, biaya hidup dan akomodasi di Bali dinilai semakin terjangkau bagi wisatawan internasional.
“Kami sangat optimis karena target pasar utamanya adalah warga Australia dan turis asing lainnya. Mengingat nilai kurs AUD dan USD yang sedang tinggi terhadap rupiah, biaya tinggal di sini akan terasa sangat murah bagi mereka. Keuntungan ini pasti akan menarik mereka untuk mengajak keluarga dan kolega datang ke Bali,” kata Justin.
Good Day Homestay menyediakan 30 kamar yang terbagi dalam dua konsep desain, yakni tema full color dan nuansa kayu alami. Setiap tipe menawarkan pilihan tempat tidur twin maupun king-size. Selain itu, tersedia pula tiga unit vila yang melengkapi fasilitas akomodasi di kawasan tersebut.
Sebagai promo tahun pertama operasional, pengelola menawarkan tarif sewa tahunan vila mulai Rp100 juta untuk tipe satu kamar dan Rp140 juta per tahun untuk vila dua kamar.
Sementara itu, Glorian Vanlee yang turut terlibat dalam pengelolaan operasional mengatakan keputusan membangun akomodasi ini berangkat dari potensi pasar long stay yang dinilai masih terbuka lebar di Legian. Menurutnya, segmen tersebut belum banyak digarap dibandingkan akomodasi dengan sistem menginap harian.
“Kami melihat potensi pasar jangka panjang di Legian sangat terbuka lebar. Dengan fasilitas lengkap yang kami miliki, kami sangat percaya diri dan positif mampu menerobos ketatnya persaingan pasar di tengah kondisi ekonomi saat ini,” pungkas Glorian. (N2)









