Surabaya, kabarkini.net – Henti jantung dapat merenggut nyawa dalam hitungan menit jika tidak segera mendapat pertolongan. Dalam kondisi tersebut, tindakan cepat berupa resusitasi jantung paru (RJP) atau cardiopulmonary resuscitation (CPR) menjadi langkah penting untuk menjaga aliran darah dan oksigen ke otak. Hal ini dibahas dalam konferensi pers di acara peringatan World Heart Day yang diselenggarakan oleh RS Kemenkes Surabaya, Perki (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) dan Yayasan Jantung Indonesia.
World Heart Day (Hari Jantung Sedunia) 2026 adalah kampanye global tahunan yang diperingati setiap tanggal 29 September untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia mengenai pentingnya pencegahan penyakit kardiovaskular (jantung dan stroke).
Dokter Agus Subagyo, yang mewakili Yayasan Jantung Indonesia Jawa Timur, Mendampingi Direktur Utama RS Kemenkes Surabaya Dokter Martha Siahaan, menjelaskan bahwa seseorang yang mengalami henti jantung harus segera mendapatkan pertolongan, terutama melalui kompresi dada.
Menurutnya, ketika jantung berhenti memompa darah, pasokan oksigen ke otak juga terhenti. Jika kondisi tersebut dibiarkan selama beberapa menit, risiko kerusakan otak permanen semakin besar.
“Detik jantung berhenti itu sangat cepat reaksinya. Tiga sampai lima menit harus sudah mendapat kompresi,” ujar dokter Agus.
Ia menekankan, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda henti jantung, seperti seseorang yang tiba-tiba tidak bergerak, tidak merespons, dan tidak bernapas secara normal.
Dalam situasi tersebut, orang di sekitar korban harus segera meminta bantuan dan menghubungi layanan darurat medis.
Agus menyarankan agar masyarakat segera menghubungi layanan ambulans 118 jika tersedia, sembari melakukan pertolongan pertama.
Jika tim medis datang ketika proses resusitasi masih berlangsung, pertolongan dapat dilanjutkan oleh tenaga profesional.
Agus menjelaskan, kompresi dada dilakukan dengan menempatkan pangkal telapak tangan di bagian tengah dada, tepatnya pada separuh bawah tulang dada.
Kedua tangan ditumpuk dengan posisi siku lurus, kemudian dada ditekan secara kuat dan berirama.
Kecepatan kompresi yang dianjurkan adalah 100 hingga 120 kali per menit.
Kompresi dilakukan terus-menerus hingga korban menunjukkan tanda-tanda kehidupan atau bantuan medis mengambil alih penanganan.
Evaluasi kondisi korban juga perlu dilakukan apabila muncul tanda-tanda respons, seperti gerakan atau pernapasan spontan.
Menurut dokter Agus, masyarakat tidak seharusnya membuang waktu dengan memberikan minuman atau mengoleskan minyak angin kepada korban yang mengalami henti jantung.
“Kalau tidak ada aliran darah, berarti tidak ada oksigen. Dalam tiga sampai lima menit, otak bisa mengalami kerusakan permanen,” jelasnya.
Kenali Detak Jantung dan Faktor Risikonya
Selain menjelaskan pertolongan pertama, Agus mengingatkan masyarakat agar mengenali kondisi detak jantung.
Pada orang dewasa dalam kondisi istirahat, detak jantung normal umumnya berkisar 60 hingga 100 kali per menit.
Detak jantung yang melebihi 100 kali per menit dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti aktivitas fisik, demam, atau gangguan irama jantung.
Sementara itu, detak jantung yang terlalu lambat dan tidak meningkat sesuai kebutuhan tubuh juga perlu diwaspadai.
Agus mencontohkan kondisi total AV block, yakni gangguan hantaran listrik jantung yang dapat menyebabkan detak jantung tetap lambat meskipun seseorang melakukan aktivitas fisik.
Kondisi tersebut dapat memicu keluhan seperti mudah lelah, pusing, hingga pingsan dan membutuhkan pemeriksaan medis lebih lanjut.
Agus juga mengingatkan bahwa penyakit jantung koroner dapat terjadi akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah yang memasok darah ke otot jantung.
Untuk mengurangi risiko penyakit jantung, masyarakat dianjurkan menerapkan pola hidup sehat.
Langkah tersebut meliputi menjaga keseimbangan gizi, menghindari rokok, mengelola stres, mengawasi tekanan darah, serta berolahraga secara teratur.
Ia juga menegaskan bahwa kebiasaan memberikan air hangat kepada orang yang mengalami henti jantung bukanlah bentuk pertolongan yang tepat.
Dalam kondisi darurat, tindakan yang diperlukan adalah segera meminta bantuan medis dan melakukan kompresi dada sesuai panduan pertolongan pertama. (G2)









